Akhirnya gue merasakan kebermanfaatan dari 1week1book challenge ini. Emng untuk sesuatu yg baik itu butuh sedikit paksaan dan effort. Yes I’m still trying to cultivate my love for reading again. Actually buku ini mulai gue baca di minggu ke-4 Ramadhan dan kelar pas H+1 lebaran, tapi baru bisa tulis review dan post sekarang. I will give this book 9/10 karna sebagus itu gaya Habib menuturkannya. Bayangin, di tengah ke-hectic-an mudik, lebaran, silaturrahmi, dan halal bihalal kesana kemari lintas kabupaten dan provinsi buku ini masih bisa menarik gue untuk baca terus. Membuka lembar demi lembarannya. Ditulis oleh Habib Husein Ja’far yang memiliki latar belakang pendidikan Sarjana Filsafat Islam dan Magister Tafsir Qur’an, buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan, asyik dan mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai kalangan, termasuk pemuda dan pemula. Bahkan yang tidak beragama Islam sekali pun. Karena tidak semua isinya di khususkan untuk kalangan muslim, namun, secara umum dan meluas topik yang diangkat relevan sekali dengan isu-isu terkini. Ada belasan tulisan yang terbagi menjadi 4 bagian, membahas soal hijrah, perang dan terorisme, HAM, perbedaan pendapat sampai halal haramnya musik dan bioskop. Seru dan patut dibaca oleh yang sedang atau berniat mendalami Islam.
Membaca buku ini menjadi cerminan bagi diri sendiri, membuat gue berpikir bagaimana cara kita seharusnya bersikap sebagai seorang muslim. Habib Husein menuliskannya dengan cermat, detail, dan mendalam ke pokok permasalahan. Designnya bukunya juga bagus dan simple, ada banyak quotes dan kutipan kutipan yang ngena bgt di hati. IMO buku ini bisa bgt sih dijadikan salah satu rujukan utama buku PAI di bangku SMP-SMA untuk mengenalkan kepada remaja bagaimana bisa ber-Islam dengan moderat dan substansial, tidak terpaku pada ritual semata. Semua topik dibahas dengan ringan; mulai dari syari’ah, fiqh, tasawuf, dan bagaimana semua itu berhubungan di kehidupan masa kini. Thumbs up buat Habib untuk kesuksesan bukunya yg katanya udah sampai cetakan ke-9!
Saat kita di puncak sukses, pernahkah terpikir untuk pulang ?
Awalnya gue ga pilih buku ini buat gue baca. Ada satu buku tasawuf, sufistik, agak berat hehehe karya Hafidz Asy-Syirazi. Maybe next time gue coba up karna seseru dan seunik itu bukunya walaupun berat.
Ok, behind the story gue pilih buku ini karna ga sengaja liat list coming up film di Netflix yang berjudul sama persis kyk bukunya “9 Summer 10 Autumns” produksi thn 2013. Dari trailernya wah menarik nih, fyi sambil gue tonton gue sambil beberes tumpukan buku di kamar yg, as you can expect penuh debu dan berantakan! Then I found that same Book. Buku yg gue dpt pas @Suniafz buka “giveaway iseng” koleksi buku pribadinya beberapa tahun lalu. Hmm, is there anything called destiny ?? I guess so. Akhirnya gue buka dan mulai baca.
Eniwei buku ini English vers ya mentemen mungkin sebagian dari kalian pernah or even udah tamat bacanya hehe tp walau begitu bahasanya sangat mudah dipahami dan ringan. Cocok buat yg mau sambil belajar dan memperkaya vocabulary (..seperti saya). The story is inspirational indeed. Reading this book is like a flash back to my own journey at the some parts, Iwan successfully taking my emotion, with his imaginary friend (ini jujur aga horror sih gue nangkepnya di awal), his ups and down while contemplating my own past, current and future life. It’s so fascinating to read about the struggle of a boy brought up in Batu, Malang (one of my favorite City!) – Bogor – Jakarta in reaching his dream sampe ke New York.. Pesan yang ingin disampaikan penulis sebetulnya cukup sederhana namun sering kita lupakan. Yaitu kenyataan bahwa “Kita ga bisa milih untuk lahir di keluarga yg seperti apa, besar di lingkungan spt apa, termasuk punya luka masa kecil se-traumatis apa.. but in the end kita sendirilah yang akan control masa depan kita”.
Ga sabar mau nonton versi filmnya. Oh ya OSTnya juga bagus bgt dari Ihsan Tarore judulnya “Tak Bisa Memilih”
Jika kamu dapat jatah hidup 100 tahun kira-kira apa yg akan kamu lakukan ? How long can we live ? Adalah Allan Karlsson yg akan merayakan ulang tahunnya yang keseratus! dan rumah pensiunnya di Malmköping berencana untuk mengadakan pesta. Allan begitu menyukai kenyataan mengenai usianya, tetapi tidak tertarik untuk menghadiri pestanya sendiri. Sebaliknya, dia memanjat keluar jendela dan menghilang… So there the story goes by, berlatar belakang banyak kota cantik dan menarik di Swedia (Malmköping, Stokholm, Uppsala) a larger-than-life old man with a fondness for vodka goes on an unexpected adventure— should be perfect for fans of Forrest Gump and A Man Called Ove (ini gue belum baca sampe 1 bab wkwk tp kyknya mirip deh. Quirky and utterly unique). He climbs out the window in his slippers and embarks on a hilarious and entirely unexpected journey, involving, among other surprises, a suitcase stuffed with cash, some unpleasant criminals, a friendly hot-dog stand operator, and an elephant! (not to mention a death by elephant). It would be the adventure of a lifetime for anyone else, but Allan the >100 y.o man: Siapa sangka, petualangannya melompat dari jendela menjadi pintu yang akan mengungkap kehidupan Allan sebelumnya. Not only he has witnessed some of the most important events of the twentieth century, but he actually played a key role in them. Menciptakan bom atom, berteman dengan Presiden Amerika dan tiran Rusia, sharing meals and more with everyone from Stalin, Churchill, Truman to Mao, Franco, and de Gaulle. Dia bahkan bahkan berhasil membuat para pemimpin komunis Tiongkok berutang budi padanya!
Favorite quotes
“Segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apapun yang akan terjadi, pasti terjadi.”
“Imagine that, death was just like being asleep. Would he have time to think before it was all over? And would he have time to think that he had thought it? But wait, how much do you have to think before you have finished thinking?”
“Tidak ada kata terlambat untuk memulai apapun”
Jonas Jonasson, The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared
Membaca novel ini seperti halnya mendengarkan kakekmu bercerita. Seru. Tapi juga satir hehe. Menurut gue buku ini layak menyandang gelar The international publishing sensation — more than six million copies sold worldwide!
Ps: Sebetulnya buku ini dibeli sudah lama, cuma baru sempat gue tuntaskan gara-gara challenge hahaha
Buku ini ibarat welcome drink yang seger untuk gue kembali coba balik ke dunia perbukuan. Setelah selama ini cukup berjarak dgn buku bacaan karena banyakan nonton movie atau baca artikel. Actually what’s on this book ? Why do I choose this book ? Sebelumnya, gue pilih buku ini bukan karna pgn menunjukkan citra alim atau berhijrah atau gmn yaa, sambil gue baca buku ini gue juga masih nonton drakor dan youtube-an NCT kok. Bukan juga karna mau cosplay edisi ‘Ramadhan’. Alasan gue pilih baca buku ini unik dan sederhana : karna tertarik dgn tanda tangan basah Habib Husein! Dan sebagai abituren pesantren (ceilah) tanda tangan basah dr seorang guru itu sangat dalam maknanya. Lain waktu saya akan coba jelaskan. Back to topic, berbicara tentang Religiusitas sama halnya kita ngomongin soal Tuhan, rasanya seperti jauh, abstrak, diluar jangkauan. Padahal kalau kita mau sadari Tuhan itu sangat dekat dgn diri kita, lebih dekat dari urat nadi, bahkan di dalam hati kita. Dalam buku ini, Habib Husein menawarkan perspektif seni untuk kita bisa ‘berbicara’ dengan tuhan—dalam arti yang luas— untuk pembaca bisa memahami berbagai fenomena keberagamaan kontemporer, mulai dari kesalehan ritual, sosial, hingga digital. Buku ini terbagi dalam 4 bab dengan judul yg berbeda dan surprisingly bikin pembaca jadi terasa diajak ngobrol oleh Habib, bukan diceramahi. Dengan gaya “dakwah milenialis”, bahasa yang popular, dan jenaka, Habib Husein mengemas buku ini dengan segar dan mudah dicerna oleh berbagai kalangan anak muda, tanpa kehilangan daya nalar dan kritisnya. Habib bahkan menyelipkan banyak hasil penelitian terupdate dari berbagai jurnal dan buku, selain kutipan hadist dan ayat suci Al –Quran. Perpaduan logika dan ajaran beragama yang indah. Ada 2 judul favorite gue :
1. Melihat Tuhan di Cermin ; “Siapa yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya” begitu kata para Sufi. Dari hal tsb kita harusnya percaya bahwa jalan awal menyayangi Tuhan adalah dengan mengenal diri kita sendiri 2. Jihad Argumentatif; …Berislam adalah menghadirkan kesempurnaan islam bagi semesta alam (rahmatan lil-alamin), dalam berbagai bidang: ekonomi, sosial, budaya, politik, dsb. Sehingga kehadiran Islam dirasakan oleh dunia dan seluruh manusia sebagai suatu kekuatan positif yang mengubah dunia dari ragam kebodohan menuju kemajuan.
Seni Merayu Tuhan
Mungkin pernah kita merasa punya banyak pertanyaan selama kita hidup beragama, saking bingung (bahkan takut ?) kita perlahan lupa ttg kekebingungan2 itu, pertanyaan kita berlahan menghilang seiring berjalannya waktu tanpa pernah terjawab. Sementara melalui buku ini rasanya gue digiring kembali pd masa-masa bimbang tersebut dgn mendapatkan semua jawaban2nya. Seperti “Apakah cara berdoa gue sudah benar?” “Gimana sih cara jd muslim yg kaffah namun tetap sejalur dgn perkembangan jaman?” “dosa ga sih kalo gue mikir orang2 spt golongan X terlalu berlebihan dlm beragama?”
Pendek kata, buku ini seperti kumpulan kultum yang ringan namun berbobot. Sungguh, tak ada kesan menggurui di dalamnya. Yang ada malah ajakan. Ajakan untuk kita membuka setiap judul baru lembar demi lembar, ajakan untuk kita jd pribadi yang lebih baik ga Cuma di mata Allah tp juga di mata sesama manusia. Kalau kalian ikutin Habib Husein mulai dari youtube Jeda Nulis, Cahaya untuk Indonesia, Pemuda Tersesat, etc baca buku ini persis feelsnya seperti menonton Habib di channels tsb.
Gue menulis kali ini disponsori oleh JTBC yg tiba-tiba upload 2 behind-the-scene Snowdrop. Luka gue yang tadinya udah mulai sembuh..kembali menganga.
Seneng sih balik lagi liat HaeSoo interaction, cuma after effectnya gue jdi rewatch ep. 14-16 Dan gue jd mewek lagi. Dasar kampeni!
Sebenernya sih kalo mereka — PH atau managementnya cerdas (ceile..kek gue cerdas aja wkwk) ga salah sih mengabulkan hajat kami, the desperate HaeSoo lovers ini untuk bikin drama RomCom. Ga romcom juga gpp sih terserah, yang penting Happy Ending! Karna kemaren kan banyak sponsor yang withdraw tuh, nah ini kesempatan emas buat balikin. Mumpung engagement nya lagi tinggi.
Yaa gue ga paham sih strategi mereka kyk gimana. Apa mereka mau memanfaatkan antusiasme HaeSoo shipper buat nanti promosi D.P 2 dan Connect (bakal film terbaru Jung Hae In), atau untuk promosi Jisoo yang rumornya mau comeback solo.
Tapi..firasat gue HaeSoo pasti ketemu lagi deh.. hehehe teteup.
Oh ya ngomongin ending SD nih. Sambil bikin mie goreng sedaap buat buka puasa gue tiba-tiba kepikiran..seandainya nih yaa (pdhl nabi melarang ummatnya untuk berandai-andaii..)
Andaikan Young Ro dan Soo Ho ga lari ke atap pas di detik2 terakhir… tp lari ke luar ke lorong /Shrine nyusul Lee Gang Mu, Mrs. Pi, dan Boon Ok mereka masih bisa lolos ga sih ? iya kan ? pdhl yaa lebih deket pintu keluar Shrine ketimbang attic ? Kalau ajaa mereka bisa keluar lewat mulut Shrine, darah SooHo yang ngocor itu pasti lebih bisa tersamarkan karna netes langsung ke tanah dan menyerap diantara dedaunan kering. Mereka bisa ngumpet dimana gitu lalu ngejapri Lee Gang Mu untuk jemput mereka ketika dorm sudah diledakkan dan kondisi sedikit aman terkendali. Make sense kan ?
Jadiii… kenapa harus balik ke attic siihhhh ? aku gemas deh.
Tapi yaa nasi sudah menjadi bubur. Drama tetaplah drama. Yoo Hyun-Mi writernim sudah menentukan pilihannya memberikan kita ending yang tragis. Gue harap Yoo Hyun-Mi writernim segera menyadari akibat dari perbuatannya!
Gue juga sempat kepikiran. Andaikata.. (duh jd berandai-andai lagi nih. istighfar) SooHo ga balik lagi ke dorm nyamperin Young Ro, dua duanya pasti akan selamat dan happy ending. Malah lebih bagus ga sih, Soo Ho bisa nemenin Kang Chung Ya kabur dulu dan nyelametin Su Hui serta keluarga EungChol dan Gyeokchan, selang 1-2 tahun dia balik lagi Seoul.
Ini drama beneran berhasil ngubek2 hari-hari gue. Kalo ada pertanyaan hal nekat apa yg sudah lo lakuin di awal tahun ? Nonton Snowdrop on-going adalah jawabannya. Ralat. Nonton snowdrop sambil adjustment di kantor baru. First thing first mari kita ngomongin aktor dan aktrisnya.
Jung Haein
You can catch my article here.. https://zennyjens.wordpress.com/2020/11/14/a-piece-of-your-mind-my-overview/ this is the 1st time i adore Jung Hae In so much. Dan karakter dia di APOYM ga jauh beda sama di Snowdrop, ga banyak ngomong, misterius, dan satsetsatset! I think everybody agree with me that Jung HaeIn’s eye acting in this drama is so perfect and detailed at the same time ?! This man doesn’t need a line, his eyes alone can act! He’s insanely good at this!
And about this girl named Kim Jisoo. She’s really the biggest hit on this drama world. Gue bukan Blink tp sempet mikir kalo Jisoo ini lumayan underated hehe sorry to say but imo, Jennie, dia udah ada nama sejak sebelum debut, bahkan ada yg bilang doi leadernya (padahal Blackpink ga punya leader yee fyi). Rose juga lumayan ada nama karna bule dan sering jd muse ff hihihi. Lisa apalagi dance dan karakter wajahnya yg khas terkenal bahkan sampe yg ga kenal Blackpink sekalipun. Pokoknya kalo ngomongin blackpink associated nya pasti ke Jennie ato Lisa udah. Nah Jisoo manaa ?? Jisoo juga satu2 member Blackpink yg GA ADA ngeluarin album solo. Hmmm tapi dengan debut di drama Snowdrop ini, dia sudah mengambil keputusan yang tepat. Why ? karna ini adalah gebrakan ter-wow diantara member blackpink lainnya selain point bahwa doi bisa banget bawain karakter Young-Ro dengan sangat baik. Sampe disini Jisoo bisa dibilang Sukses! Gue sempet mikir aktris sapa lagi yg cocok sama Young-ro dan hasilnya NIHIL. Pantesan manager bilang pas dia baca naskahnya pertama kali, dia langsung mutusin Jisoo buat ambil peran ini. Nangis-nya, brave-nya, polos-nya, naif-nya YoungRo, semua Jisoo bisa delivery dgn smooth.
Dari segi cerita juga kyknya karna gue udah ada engagement kisah cinta lintas zona DMZ dari Crash Landing On You, mungkin gue terlalu berharap banyak disini. Salah gue juga. Udah jelas jelas sutradara bilang ini tragic and sad romance gue masih aja cari celah. Nonton on-going lagi! shit.
I feel so bad for these two. Their eyes grow more tired as the eps progress, anyone can see how greatly they’ve suffered under the circumtance in which they fell in love. And yet, I still think their love was a blessing bcz it gives them strength to carry on.
Interaction HaeSoo in real life juga kelewatan sih. Kek bisa – bisanya mereka se flawless itu di behind the scene. Buat yang ngikutin BTS-nya Snowdrop pasti bakal nangkep serunya interaksi mereka. The way we’re getting more romance in the behind the scenes than the drama itself! Snowdrop behind the scene adalah spin-off dengan genre berbeda : Romantic. Jadwal tayangnya juga teratur lagi senin-rabu-jumat. Khusus Senin tayang tiap jam 14.00 WIB sementara hari lain jam 09.00 WIB. Kan jadi nungguin ya hehehhe Tapi ini juga yang bikin degdegan like a calm before storm. Kek wah ini kenapa kita dikasih BTS yang ceria dan super fun gini ? Bakal se-dark apakah alurnya ? endingnya?
Disagree! Gue ga setuju kalo dibilang APOYM dan Snowdrop adalah drama gagal karna lawan mainnya lebih muda alias bukan noona. APOYM itu drama bagus, melodrama yg simple dan penuh makna. Begitu pula Snowdrop terlepas dari kontrovesinya yaa. Tapi justru ini yg jd point plus dua drama ini, mereka ga ngikutin selera pasar dan berhasil survive sampe tayang. Its not easy to make it. APOYM selesai lebih awal darinya 16 ep, jd cuma 12 ep karna rating rendah but thats okay and thats enough! Endingnya juga cukup smooth. Gue ga kebayang kalo misalkan tetep on schedule 16 ep, APOYM ga bakal sebagus itu. Gue suka bgt liat Jung HaeIn disini, auranya calm dan dapet bgt. Khas JHI.
Back to Snowdrop – cukup banyak yang bilang Snowdrop gagal selain karna dari segi kontroversi sejarahnya tapi juga ceritanya yang ga oke. Dan gue masih bingung sampe sekarang, apanya yang salah sih dari drama ini ? Mari kita break-down satu satu yaa. Kontroversi sejarah? Sutradaranya Jo Hyun-tak bilang kalo ini drama beda sama aslinya. Drama ini asli cuma fiksi belaka an ga ada hubungan sama cerita asli. Tim PH juga bilang kalo mereka sama sekali ga ada niatan buat membelotkan sejarah atau semacamnya, toh ANSP tetep salah dan Korut tetap sadis. Hanya pinjam nama aja yg sedikit mirip dgn asli, namun dari segi cerita its totally different. Writernya juga bilang kalo dia udah melakukan research sejarah dan sebisa mungkin ga nyinggung aslinya, dia fokus sama (sad) love story antara tokoh fiksinya aja.. Im Soo Ho dan Eun Young Ro, intriknya baru deh dia bikin njelimet dan tragis dgn impossible things between Korut-Korsel.
Dari segi cerita banyak juga yang bilang ceritanya ga bagus. Ancur. Laah expectancy kalian maunya kyk gimana sih ? Kalo mikirnya bakal romance seru mirip CLOY ya sama, gue jg mikir maunya sih gitu tp yaa ini PH dan Writer beda, jelas style mereka juga pasti beda. Sebenernya kisah cinta SooHo dan Young Ro ini romantis abiss loh kalo dipikir pikir.. ga kyk kebanyakan kisah cinta drama lain. I think people got used to the conventional portrayal of romance as grand gestures & bold professions. But SD shows that romance is caring for the other person in any way you can. Amid the situation. Love can’t alays be loud, but that doesn’t mean it’s any less real. Mereka ditakdirkan saling jatuh cinta pada sikon yang penuh prahara. Setting tahun 87, dimana semua masih serba kaku dan perang, Sooho dan Youngro saling jatuh cinta dengan sederhana. Love at the first sight.. Kemudian mereka berusaha menjalani dan mempertahankan cintanya dengan sekuat tenaga. Polemik cinta yang diusung di drama ini yaitu ttg cinta dalam berjuang, dimana aslinya memang kyk gitu kan ? Cinta sama perjuangan adalah dua hal yang ga bisa dipisahkan. Ada perjuangan sudah tentu akan ada juga yang namanya pengorbanan. SooHo dan Young Ro udah sampe tahap berkorban with all the cost.. keluarga, kebebasan, dan nyawa!
Intensitas emosinya ngena bgt. Sampe gue pernah ngeluh sama Ika “kapan sih mereka kelar berantemnya?” “udahan kek nangis nangisnya..tembak tembakannya stop duluu huhuhu” yang selalu dibalas Ika dengan “wkwkwkwk” sapa suruh nonton ?
iya juga sih.
Being sentimental. I love the OST too. Terutama Kim Hee Won – Friend sama JeHwi – Looks like real things.
Percaya atau ngga, gue ga pernah skip opening drama ini karna lagunya cocok bgt di gue..
Ini juga parah sih makjleb liriknya
Kalo ini juga gila sih
Gila!
So hear me out.. Snowdrop doesn’t show the FULL ROMANCE genre BUT..you know whats amazing ? JHI and Kim Jisoo showed their top tier chemistry just by that scenes. They don’t need to kiss or have intimate scenes to show that they have one of the best chemistry. EVER!
Bisa dibilang gue melalui December – Januari dengan penuh emosi dan pikiran layaknya drama ini. Banyak ekspektasi, masalah, dan resolusi yang sedang dan akan gue lalui. Ga enak. Kalo boleh gue bilang December – Januari nih bulan bulan stress. Bulan peralihan. Semangat deh untuk kita semua.
Setelah drama ini kelar, gue harap bisa cepet move on ke drama lainnya. Gue harap ada drama lain lagi dengan keunikan dan keseruan yang berbeda. Karna setiap drama ninggalin kesan dan tentunya ngajarin gue pelajaran yang beda-beda. Gue harap Hae In – Jisoo bisa ketemu lagi di drama lain karna secocok itu mereka. Like they are born just to complete each other.
Selain move on dari drama. Gue juga beraharap bisa move on dari 1 masalah ke masalah lainnya. Dari satu tantangan ke tantangan lainnya. Di 2022 ini gue ingin selalu bertumbuh, ke arah yg lebih baik.
Di tahun baru kali ini gue ga terlalu expect macem – macem atau bikin list resolusi bejibun. Gue mau let it flow aja, tp bukan berarti ga ada tujuan. Sepertinya 2020 ini ngajarin gue sakitnya berekspektasi. Memang gemar berekspektasi adalah salah satu kelemahan manusia. Kita ga boleh terlalu banyak berharap, apalagi sama manusia.
Kalau mau sedikit refleksi, awal tahun 2020 : Gue officially kerja as consultant. Bekerja di di sebuah perusahaan head hunter dan berhasil jadi consultant itu cukup prestisius bagi gue. Perekonomian stable, tapi jiwa gue yang. Gue sering ngerasa kelelahan (bahkan sempet terlambat menstruasi 1 bulan) capek. Gue punya duit tapi bingung duitnya mau dibuat apa. Gue merasa seneng karna inilah yg gue impikan selama ini : sibuk dan tenggelam di dunia profesi. Tapi gue berasa jadi orang lain.
Pertengahan 2020 : Badainya ga banyak. Cuma disini gue mulai banyak mikir tentang apa yang gue mau. End up gue resign dari kantor. Gue nyadar bukan profesi ini yang gue mau. Bukan kyk gini jalan yang gue mau tempuh. Usia gue udah 27thn. Tetiba gue kangen bikin error, gue pingin nyoba gagal lalu bangkit lagi. Labil. Tapi gue ambil banyak keputusan tanpa ragu di pertengahan tahun ini.
Akhir 2021 : Papap pergi. Gue ga lolos SIMAK UI. Ada tambahan 1 anggota keluarga. Ada banyak adjustment yang gue lalukan di periode ini. Well, sebagian ga berjalan mulus, tapi lainnya berhasil.
Selebihnya flat. Namun gue bersyukur. Ada banyak hal yang patut gue syukuri di tahun ini. Gue harus mulai berani ngomong, dan perjuangin apa yang gue mau. Gue harus tetap pegang erat cita-cita gue.
Di tengah kehidupan gue yang flat dan biasa aja ini gue menemukan sebuah judul drama di Viu hehehe. Aniwei, sebelum gue mulai menuliskan review dramanya izinkan gue untuk sedikit berbangga hati karena setelah sekian lamaa berhasil memutuskan untuk subcribe akun Viu. YEYYH! *lambai-lambai dari atas podium
Akhirnya setelah perang batin subcribe Viu atau Netflix duluu gue berhasil memutuskan. Kenapa Viu ? Pertama karena lebih muraahahahaha. Yang kedua, karna banyak pilihan drama-nya (iyaa hidup gue seakaan kekurangan drama yaa, secinta itu gue sama drama). Ketiga lebih simple, kebetulan gue punya semua kebutuhan / akses untuk berlangganan, ex : gue ada gopay, akun udah punya, sesuai budget… klik klik klik kelar. Drama ini pula yang bikin gue yakin untuk subcribe hehehe
Image by Asianwiki
Oke, A Poem A Day. Kalau diliat dari cover atau posternya drama ini keliatan sendu mendayu gitu yaa. Atau tipikal drama soft yang puitis puitis dengan pace lambat. Gue juga pas awal mikirnya begitu. Tetottt. Salah besar!
Dramanya super duper kocak, kek di ep. 1 gue udah dapet lucunya. Karakternya Woo Boyoung langsung kek relate bgt di kehidupan. Kehidupan gue sih khususnya ahahaha. Ya pernah ga sih lo ngalamin kesialan beruntun ? Seolah semesta lagi ga berpihak sama lo, semua planning gagal, everything seems so wrong! Nah ini yang di-portrayed di drama mulai dari episode pertama.
Image by Kpopmap
Woo Bo Young diceritakan sebagai seorang fisiotherapis. Ah yaa jadi sebelum lebih jauh gue bahas, drama ini termasuk dalam kategori Medical Drama yaa, khususnya kehidupan fisiotherapis yang jarang bgt disorot. Maybe drama ini bisa jadi satu satunya drama yg menggambarkan kehidupan fisiotherapis. Lanjut, Wo Bo Young adalah seorang fisiotherapis magang, dia sedang menunggu kepastian kerjanya di RS Sinsun, sebuah RS yang cukup ternama di kota Seoul. Dibalik pribadinya yang ramah dan rajin Woo Bo Young termasuk fisiotherapis yang paling kompeten, bahkan di polinya sendiri dia mungkin satu satunya yang paling ‘bener’ dan paling tulus kerjanya. Well, masing masing therapis lain seperti Kim Yoon Joo dan Park Shiwon juga memeiliki kompetensi dan keunggulan yang berbeda, namun ketulusan dan kebaikan hati Woo Bo Young belum ada yang bisa menggantikan. Ralat : Kecerobohan dan Kepolosan,
Kecerobohan dan Kepolosan adalah dua hal yang membuat karakter Woo Bo Young semakin kuat. Dua hal inilah yang sering mengantarkan Woo Bo Young pada kesialan-kesialan, namun dua hal ini pulalah yang sering membawa keberuntungan bagi hidupnya. Karakter Woo Bo Young juga seolah nunjukin bahwa, as long as lo baik sama orang, baik sama diri sendiri lo pasti akan diterima dimanapun. Bahwa ga salah jika kita memilih jadi diri kita sendiri, di tengah gempuran ekspektasi dan pencapaian orang – orang sekitar yang sering banget bikin kita down.
Woo Bo Young sangat menyukai puisi. Walau munurut sebagian orang puisi seperti memberi kesan meloow dan lebay tapi uniknya dalam puisi Woo Bo Young mendapatkan penghiburan. Ia sangat menykai puisi dan selalu ingin memberikan puisi pada orang – orang yang membutuhkan kekuatan puisi. Nyadar ga sih kalau puisi itu punya efek magic ? Puisi bisa jadi pendorong, penyemangat, pengilham… dan lain sebagainya. Puisi juga punya efek menyembuhkan. Ibarat lagu, puisi juga punya irama menenangkan jika kita membacanya dengan sepenuh hati. Jika kita bisa memahami maknanya secara lebih dalam.
Mungkin ini pula yang membuat Ye Je Wook, seorang therapis handal lulusan luar negri akhirnya jatuh cinta pada Woo Bo Young. Karena Woo Bo Young selalu berani mengungkapkan apa yang ia rasakan. Seperti manusia biasa pada umumnya, kadang ia ragu untuk jujur mengingat keadaan, kondisi, dan orang sekitarnya, namun pada akhirnya dia akan mengungkapkan kebenarannya. Bahkan pada dirinya sendiri. Dulu Woo Bo Young sangat menyukai Shin Min Ho (Jang Dong Yoon), ia menuliskan banyak puisi sebagai wujud rasa sukanya, 1 puisi sehari (mungkin ini yang mengilhami judulnya).
Diceritakan dulu Woo Bo Young punya keinginan untuk masuk fakultas Sastra dan menjadi menyair, namun karena kesulitan ekonomi ia akhirnya masuk jurusan fisiotherapi dan menjadi terapis. Seperti biasa disajikan drama – drama lain, ini bagian getir yang sangat relate dengan kehidupan kita. Pasti ada disaat kita harus ambil suatu pilihan yang not based on our choice, but the condition force us to do that. Simplenya sih pilihan yang kita bikin karna kepepet, ga ada pilihan lain.
Source by Pinterest
Drama ini juga mengisahkan cinta segitiga yaa gaes. Spoiler : Shin Min Ho adalah teman sekampus Woo Bo Young. Shin Min Ho punya kelebihan wajah tampan dan cukup kaya tapi sayangnya dia pemalas dan sedikit manja. Namun entah kenapa Woo Bo Young tertarik padanya dan melakukan usaha – usaha (termasuk mengirimkan puisi setiap hari). Confession Woo Bo Young gagal, ia ditolak oleh Shin Min Ho. Beberapa tahun kemudian mereka bertemu kembali di RS Sinsun, keadaan berbalik Shin Min Ho mulai menyukai Woo Bo Young dan kehadiran Ye Je Wook membuat cinta segita diantara mereka semakin seru. SPOILER ALERT : Drama ini berakhir happy ending Woo Bo Young jadi sama Ye Je Wook.
Ye Je Wook dan Woo Bo Young bakal jadi couple favorite kalian yang suka bgt sama kriteria couple cowo tsundere kaku dengan cewe cheerful sederhana.
One of my Favorite Couple
Okay, menurut gue ini drama cukup menarik dan highly recommended untuk kalian tonton di penghujung tahun ini. Gila yaa gue nulisnya pas bgt di tanggal 31 December (well ini draft dari 2 minggu yang lalu actually). Tahun ini gila banget sih menurut gue, semoga tahun depan, 2021 will bring a hundred luck into my life…can i get your amin please ? 😉
Ahya, ntar malem gue bakal nulis post edisi khusus tahun baru! Yeyyy kyk ada yang mo baca aja wkwkwk
Kali ini gue bakal coba review drama berjudul When My Love Blooms yaa.
Gilaa sih gue udah ngedraft tulisan ini mulai dari sebulan lalu tapi baru bener2 ada niat sekarang. Iya, sekarang banget. Pas jam 01.30 alias lewat tengah malam.
Terima kasih kopi Janji Jiwa. Namamu boleh norak tapi efekmu sangat luar biasa.
Okay back to the story, kenapa gue merasa harus dan perlu banget menulis review dari drama ini adalah karena Drama ini kayak vitamin sih. Dia berhasil mengoptimalkan setiap partikel2 otak kanan gue untuk berfungsi dengan baik. halah.
Jadi, drama ini bercerita tentang Han Jaehyun (Yoo Ji Tae) dan Yoon Ji Soo (Lee Bo Young) yang klasik sih sebenernya. Kisah cinta sonbae – hobae ketika mereka masih menjadi mahasiswa. Jaehyun dengan kesederhanaanya adalah seorang mahasiswa jurusan hukum, aktivis kampus dan sering mengetuai berbagai organisasi. Sementara Ji Soo tipikal junior yang imut dan manis, lahir dari keluarga berada, lurus, dan berkuliah di jurusan seni. Ia adalah pemain piano yang handal.
For whomsoever who doesn’t believe love at the first sight, jangan nonton! Pertemuan pertama mereka terjadi di tengah – tengah demo! Epic. Jaehyun nolongin Ji soo kabur yang terjebak demo. Kemudian mereka berpisah selama hampir 20 tahun ketika keduanya sama – sama sudah berada di usian 40an. Secara tidak sengaja, dengan posisi keduanya yang sudah jauh berbeda. Berbeda dalam artian, kalau waktu muda Ji Soo yang tajir, Jaehyun yang kismin di usia 40 tahun kebalik Jaehyun yang tajir dan Ji Soo hidup melarat. Masing – masing punya 1 anak dan pasangan yg toxic. Alur cerita maju mundur tapi ga bikin pusing yang harus pake mikir gitu. Ngga. Dramanya soft!
Oh ya gara-gara nonton drama ini juga gue menyadari betapa gantengnya Jinyoung GOT7! Oke oke. Gue akui selama ini emng dia sering main drama which is sudah cukup memvalidasi soal tampang dan kempuan acting doi but really, gue baru bener – bener ‘ngeliat’ dia pas di drama ini. Kharisma-nya dapet bgt as kaka senior kampus. Bikin flashback lagi ke jaman kuliah gue. Siapa sih yg dulu ga punya senior campus crush ? Wait. Ga cuma senior loh yang jadiin OSPEK sebagai ajang screeening ‘bibit-bibit’ unggul, kami juga yang junior ngelakuin itu. Kita ngeliat dengan seksama senior – senior yang hobi wara-wiri, senior anak acara, senior keamanan yang suka bentak bentak, senior medis yang penuh kasih, atau juga senior hantu yang underated kadang ilang kadang ada tapi punya tampang yang rupawan. hmm
Oke back to Jaehyun. Karakternya oke bgt. Ga item putih. Jadi ada kalanya gue benci sosok dia, tapi ada kalanya juga gue kagum. Manusiawi ya ga sih ? Ga selamanya kita bakal suka terus sama sesuatu dan ga selamanya pula kita akan benci sama sesuatu.
Ada dua pelajaran cukup menohok yang gue dapetin dari drama ini. Pertama, semua bisa berubah. Time can heals any of wound you have. Mungkin skrng lo merasa bahagia, merasa punya segalanya. Keluarga, harta, pasangan, kesempatan… tapi bisa jadi besok semuanya menghilang dan lo merasa jadi orang yang paling bodoh dan menyedihkan. Kedua, Cinta itu tak berbatas. Cinta itu universal. Kita ga akan pernah bisa bohong sama perasaan kita sendiri. Mau dipendam sedemikian rupa ? Mau dikubur seberapa dalam ga akan pernah bisa kontrol kapan ia akan muncul lagi. Apalagi kalo ada yang belum bisa kita selesaikan dari kisah cinta kita.
Drama ini juga bikin gue pribadi jadi berasa kyk punya harapan. Harapan untuk ketemu kembali sama crush gue wkwkwkw
Let me being sentimental for a moment. Jadi gue emng punya banyak bgt crush believe of not. Namun gue setertutup itu even sama sesama cewe jadi gue ga pernah ngomong apapun atau curhat apapun ttg crush gue daan semua crush beneran lost contact (ada yg pindah negara, ada yang udah married, rata-rata udah > 6 tahun ga ketemu).
Lalu drama ini bikin gue kyk kebayangin seandainya gue ketemu lagi with all the crush i’ve been love before haha. Ntah itu 10 atau 20 tahun lagi gitu. I’m really curious apakah those sparks bakalan masih ada? Bukan gue mau kepedean or what tapi semua hubungan gue sama crush adalah hubungan 2 arah. Artinya kita berdua sama – sama ada feel. But for some reason kita ga bisa barengan thats why gue sebut mereka semua crush.
Dan gue pengen banget nanya ke mereka semua ? How’s life ?
Gue nulisnya pas bgt abis nonton ep 12 drama yang judulnya gue bikin judul post ini.
Its a truely healing drama.
Tiap adegan memang terkesan lambat bgt. Yes, slow pace but digging into my deepest heart. Lagu – lagunya…soundtracknya lumayan mendukung. Karna dialog-nya aga minim yaa antar main-lead jadinya gue fokus sama mimik wajah aja dan… baik Jung Hee In atau Chae Soo Bin kereennn bgt actingnya! Tiap emosi terdeliver dengan baik! Tumbs up. Rasanya gue mau marah kok bisa ratingnya jelek 😦 Gue sedih bgt.
Yang kedua gue sukaaa bgt bgt sama tone yang dipake di drama… lembut bgt. Meraka juga pakai set-set yang juga gue suka. Moon Studio yang nyaman dipenuhi tanaman di lantai bawah..cafe yang tenang… Homestay Eunjoo… rumah Ha Won 77-41 Wokin 4-gil.. Lobby kantor Ha Won yang berhias lukisan digital hutan Norway bersalju (OMG where can i found that in Indonesia??), and Oslo-Norwegia! Gue suka bgt scene saljunya. FYI, Winter is my favorite season and snow is my favorite thing! Nambah lagi yaaa nilai plus dari drama ini.
Namun ada beberapa scene yang menurut gue agak ga masuk akal sih hehehe. Mengenai surat-surat yang dikirim Jisoo untuk Ha Won; kenapa mereka ga pake bhs inggris aja yaa dlm komunikasi dan surat menyurat? Bukankah dikisahkan mereka lama di Norway dan agak kesulitan bicara bhs korea ? Harusnya sih dikasih sepotong dua potong dialog berbahasa inggris atau jerman untuk lebih meyakinkan penonton. Apalagi Ha Won CEO perusahaan AI… pasti lekat dengan bhs asing.
Overall dramanya oke. Healing bgt. Tipikal drama favorite gue yang mellow, ada nyeseknya ampe ke ulu hati, gue juga berhasil nangis lebih dari 3 kali, dan happy ending!
Photo by IDN Times
Actor – actressnya juga gue ga ada masalah. Malah jadi makin penasaran sama drama Jung Hee In yang lain huhuhu Ganteng bgt sih. Karakter wajahnya yang polos, tenang, baby face, tapi matanya bisa bgt ‘bicara’. Jadinya gemeshhh pas adegan dia adu mulut sama Soon Ho gue udah ga tahan pengen melukk!!! Gila sih Jung Heee In i love youuu full.
Chae Soo Bin juga mantep bgt dia disini.. gue sampe lupa dia pernah main webseries sama KyungSoo, abisnya disini dia beda bgt dari gaya rambut dan suara kyknya. Suaranya di drama ini lebih lembut. Trus dia cantikkk bgt sukaa liatinnya. Lucu.
Gue rasa gue bakal repeat nonton saat butuh suntikan energy kapan kapan.
Dan akhirnya gue akhiri post ini dengan sedikit perasaan sebal dan pertanyaan yang akan terus penggantung… Kenapa harus berakhir di episode 12 ?
Eniwei… sepertinya gue bakal marathon semua drama Jung Hae In setelah ini 🙂