Review Film PHOBIA dan PUZZLE

PHOBIA

( LIVING IN TEROR)

Phobia merupakan gangguan kecemasan atau ketakutan berlebih pada hal-hal yang bersifat irrasional. Contohnya, rasa takut ke tempat ramai (Agoraphobia) atau mungkin juga rasa takut untuk bertemu dengan orang lain ( Social Phobia). Atau phobia lain yang lebih spesifik, misalnya phobia terhadap ular, serangga, dan lain sebagainya.

Para penderita phobia ini, secara otomatis akan menghindari sumber ketakutan mereka. Atau jika tidak, mereka akan merasakan reaksi-reaksi biologis berupa rasa panik atau takut, detak jantung yang cepat, sesak napas, gemetaran, sebuah keinginan yang kuat untuk menjauh dari apapun yang menjadi sumber ketakutan.

Berdasarkan pandangan Psikodinamika, perilaku manusia ditentukan oleh impuls, motif motif, dan konflik intrapsikis serta berada dalam ketidaksadaran (unconscious). Faktor-faktor intrapsikis dapat menyebabkan perilaku normal maupun abnormal. Dalam kasus phobia, dapat disimpulkan bahwa terdapat konflik intrapsikis dalam diri penderita. Entah itu pengalaman masa lalu yang traumatik, atau sebab lainnya yang pernah mereka alami semasa kanak-kanak. Merujuk pada asumsi dasar Psikodinamika bahwa perilaku manusia ditentukan oleh perkembangan di usia kanak-kanak

Setiap fobia yang mengganggu kehidupan sehari-hari dan menciptakan gangguan mental atau social yang ekstrim harus dirawat. Dengan pengobatan yang tepat, sebagian besar pasien fobia sepenuhnya dapat mengatasi ketakutan mereka dan bebas gejala selama bertahun-tahun. Bantuan yang efektif biasanya dapat diperoleh baik melalui terapi perilaku kognitif, pengobatan, atau kombinasi keduanya.

Salah satu cara yang efektif dan banyak digunakan oleh banyak terapis adalah CBT (Cognitive Behavior Therapy). Dalam terapi perilaku, seseorang dapat bertemu dengan seorang terapis untuk berlatih dan menghadapkan objek atau situasi yang ditakuti dengan hati-hati dan direncanakan, secara bertahap dan belajar untuk mengendalikan reaksi mental dan fisik ketakutan. Dengan menghadapi sesungguhnya lebih baik daripada melarikan diri dari obyek ketakutan. Orang menjadi terbiasa untuk itu dan dapat kehilangan teror, horor, panik, dan ketakutan yang pernah mekeka rasakan.

images (3)

PUZZLE (THE MULTIPLE PERSONALITY)

Dissociative Identitiy Disorder (DID) atau kepribadian ganda didefinisikan sebagai kelainan mental di mana seseorang yang mengidapnya akan menunjukkan adanya dua atau lebih kepribadian yang masing-masing memiliki nama dan karakter yang berbeda. Mereka yang memiliki kelainan seperti ini sebenarnya hanya memiliki satu kepribadian, namun si penderita akan merasa kalau ia memiliki banyak identitas bila mendapati cara berpikir, temperamen, tata bahasa, ingatan, dan interaksi terhadap lingkungan yang berbeda-beda. Colin Ross, penulis buku The Osiris Complex, mengatakan bahwa proses disosiasi pada anak yang mengarah kepada kelainan DID terdiri dari dua proses psikologis. Contohnya yaitu pelecehan seksual yang dialami oleh seorang anak perempuan. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai pengidap kepribadian ganda,

Penderita gangguan DID ini biasanya memiliki ciri-ciri :

1. Pengidapnya memiliki dua atau lebih identitas atau kesadaran yang berbeda.

2. Kepribadian-kepribadian ini secara berulang mengambil alih perilaku orang tersebut atau disebut dengan switching.

3. Pengidapnya memiliki ketidakmampuan untuk mengingat informasi penting yang berhubungan dengan dirinya.

4. Gangguan-gangguan yang terjadi pada pengidapnya tidak disebabkan karena efek psikologis dari substansi, seperti alkohol, obat-obatan, atau karena kondisi media seperti demam.

Adapun bentuk gejala fisiologisnya, dapat berupa gangguan tidur (insomnia, teror malam, dan tidur berjalan), alkohol dan penyalahgunaan narkoba, dorongan dan ritual gejala psikotik seperti (termasuk halusinasi auditori dan visual) hingga gangguan makan.

Keempat ciri di atas, yang paling mudah dikenali bahwa orang itu pengidap kepribadian ganda adalah mereka yang tidak mampu mengingat informasi penting yang berhubungan dengan dirinya. Pengidap DID 98 persen mengalami amnesia. Contohnya ketika kepribadian aslinya kembali, ia tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Terdapat banyak kasus mengenai pengidap kepribadian ganda, salah satunya yang dialami oleh Shirley Ardell Mason. Ia terungkap telah memiliki 16 kepribadian yang berbeda, diantaranya Clara, Helen, Marcia, Vanessa, Ruthi, Mike (Pria), Sid (Pria), dan lain sebagainya. Cornelia Wilbur, psikolog yang memeriksanya mengatakan, 16 identitas yang dimiliki Shirley berasal dari trauma masa kecil akibat sering disiksa oleh ibunya. Kisahnya, diceritakan oleh Cornelia Wilbur dan dijadikan buku yang menjadi best seller pada tahun 1973. Dalam buku itu, nama Shirley disamarkan menjadi Sybil Isabel Dorsett untuk menyembunyikan identitasnya.

Advertisements