Menjadi Sederhana

Hai.

Assalamualaikum wr.wb

Aku sedang tidak ingin tidur. Aku terbangun… akibat ‘banjir bandang’ yang melanda setiap bulan… Yah. Tidak nyaman memang.

Ada yang bilang ini sudah kodrat, maka aku akan mencoba menerimanya dengan sederhana.

Kemudian aku ingin bersyukur pada Allah, My Savior : Laptopku yang renta ini masih bisa memutar film hebat Yeh Jawaani Hai Deewani. Yang membuatku menitikkan air mata dan menyadari tentang menjadi sederhana. Dan latar ceritanya… sedikit mirip dengan kisahku. Tak heran aku menjadi sedikit sentimentil menjelang pagi ini. Suasana yang sepi seperti saat aku menulis ini, merupakan saat yang tepat untuk aku melepas sejenak usahaku untuk ‘jadi tegar’.

Aku tahu, kurang dari 3 jam lagi aku harus segera kembali keluar. Menghadapi pelajaran baru dari Allah untuku. Jadi biarlah saat ini aku santai menulis saja… meresapi hening…mencoba menikmati waktu dengan cara yang sederhana.

Terkadang kau memang harus menjadi sesederhana mungkin. Jika kau ingin menjadi dewasa.

Sederhana dalam memandang dirimu sendiri… Sederhana dalam melihat dunia.

Dunia terkadang memang membuat kericuhan. Dengan gemerlapnya, dengan rayuannya, dengan kehidupannya. Betapa tidak ? Kadang aku juga merasa : Oh ternyata ada yaa kehidupan seindah dongeng… padahal ini dunia nyata ! Lihat cewe itu. Dia punya semuanya… wajah cantik, kulit bersinar, keluarga harmonis, harta melimpah, relasi yang baik, pacar yang mapan, populer! Dan ia punya banyak follower di akun Intagramnya.

Atau ketika aku melihat seseorang yang memiliki pasangan dan hubungan yang romantis. Seperti yang pernah aku baca di novel novel. Di film yang aku tonton. Mereka sepasang kekasih yang bisa dengan bebasnya memproklamirkan status hubungan mereka, beradegan bak sepasang suami–istri yang sah dimanapun mereka berada. Kisah mereka nyaris sempurna..

Lihat! Dunia begitu tabu dan menjajikan bukan ??

Lalu aku mencoba untuk melihatnya dengan cara yang sederhana.

Aku dan si cewe populer itu memiliki dunia yang berbeda. Aku tidak salah, dan dia juga tidak salah. Kami hanya mencoba berjuang dengan cara yang berbeda. Berjuang untuk terus hidup. Mungkin itu adalah anugrahNya : Kecantikan, Kekayaan, Sosial yang baik. Namun aku juga memiliki anugrah dariNya yang Maha Baik. Aku memiliki keluarga, aku memiliki teman, aku memiliki saudara, aku memiliki diriku seutuhnya. Aku memiliki kesederhanaan.

Mungkin kesederhanaan ini bisa jadi ban serep. Jika kelak aku terpental dari dunia yang penuh fenomena ini… aku tidak akan banyak kehilangan. Aku tidak akan banyak membebani pula,

Terkadang aku juga pernah merasa iri. Mengapa mereka bisa menjadi begitu ‘berbeda’ ? Mengapa mereka bisa jadi begitu merasakan kesenangan ?

Lalu aku kembali moncoba menyederhanakan pikiranku.

” Jen, dunia ini hanya sementara… kau akan meninggalkannya suatu waktu. Apa kau tau berapa sebenarnya sisa usiamu ? Akan ada kehidupan yang kekal nantinya. Abadi. Saat ini tujuanmu hidup adalah untuk berjuang : menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Menjadi pribadi taat yang Allah cintai. Jika kelak kau merasa dunia ini benar2 membuatmu tertekan hingga sulit tidur… tenang saja. Kau selalu punya Allah yang tidak pernah tidur. Yang memiliki kekuatan tanpa batas untuk selalu menyelamatkanmu. Asal kau mau menjadi baik untuknya. Itu saja”

Sederhana.

Wassalamualaikum wr. wr

 

 

– 4.20 ketika adzan subuh berkumandang merdu… selamat ulang tahun ibu, semoga hidup ibu semakin sejahtera, keluarga yang menyenangkan, dan makin disayang Allah. Aku sayang ibu… semoga ibu masih ingat. Amin

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s