Urban Foodies Dan Trend Artis Berbisnis Kuliner Khas (Yang Tidak Khas)

IMG-20161215-WA0070

Ketika manis gula aren tergeser oleh aneka vla kekinian seperti red velvet, green tea (matcha), taro, dan durian menjadi penanda bahwa jaman telah benar – benar berganti. Geliat trend rasa – rasa ini menempati puncaknya pada tahun 2016 lalu, dengan merajai berbagai variasi rasa penganan di dunia, termasuk di Indonesia. Berbondong bondong para memilik gerai atau foodshop mendisplay menu makanan mereka dengan varian rasa ‘baru’ ini untuk menarik minat pembeli yang tengah digandrungi oleh demam urban taste. Martabak dan kue cubit yang biasa hanya berhias seputar mesis, keju, pisang, atau sukade kini bertambah variasinya. Kue Cubit Gree tea, Kue Cubit Red Velvet, Martabak Grean tee, aneka cupcakes dan donut dengan toping green tea, dll. Generasi millennial seakan sudah memilih corak testenya sendiri khususnya soal kuliner. Mulai dari segi pemilihan bahan makanan, rasa, restaurant, hingga penampakan atau visualnya.

Siapa sih yang tidak menyukai rasa yang khas dari vla matcha ? red velvet ? taro ? apa lagi durian ? masing – masing menawarkan ciri rasa manis yang khas dan alami lebih dari sekedar manis gula pada umumnya. Saya pun suka. Semua suka.

Urban foodies yang kebanyakan adalah para millennial sendiri terdiri dari para ‘testemaker’ mereka gemar mencicipi berbagai macam rasa baru. Adalah hal yang penting pagi para millinial untuk memilih apa yang ingin dimakan, di mana bisa membelinya dan bagaimana kemasannya. Tren ini cenderung mengalami peningkatan dari generasi ke generasi. Dan apa pun yang menjadi minat para milenium ini adalah tuntuan bagi para pemasar yang wajib untuk disediakan.

Termasuk para artis pop up entrepreneur pemilik lapak kuliner. Mungkin sudah banyak yang mengulas tentang maraknya artis yang berbisnis dengan membranding nama daerah pada produknya.

Sebut saja, Malang Strudel, Makassar Baklava, Bossang Makassar, Snowcake Surabaya, Yogya Scrummy, Lamington Pontianak, hingga Bandung Makuta. Bahkan ada yang terbaru yaitu Bogor Raincake.

Awalnya saya nyinyir dengan trend ini. Apa kue – kue yang berisi seputar puff pastry, softcake, dan vla ini layak untuk dijadikan sebagai ikon daerah ? Menurut saya setiap nama kota atau daerah selalu mempunyai daya tarik tersendiri. Suatu aroma nusantara yang khas. Yang di dalam setiap segmennya terdapat banyak baluran sejarah, kebudayaan, serta ciri khas tersendiri. Adalah sebuat kebenaran bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki karakter yang berbeda – beda. Dan menurut saya hal ini layak untuk dipertahankan.

Sedikit terbesit rasa tidak rela ketika nama daerah yang luhur disandingkan dengan nama kue yang aslinya berasal dari negara lain nun jauh di mato. kemudian secara  instan membranding diri sebagai makanan khas bahkan langsung mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Apa kabar getuk ? serabi ? lumpia ? kue bhoi ? kue putu ? palu bassa ? barongko ?

Entah saya yg terlalu skeptis atas fenomena ini, namun saya masih belum bisa menerima mengaburan karakter daerah yang seakan terbawa suasana trend ini.

Faktanya kenyataan bisnis kuliner khas merupakan bisnis yang terbilang seksi nan menjanjikan. Karna apa ? dengan klaim atas kekhasannya dengan hanya di jual di kota itu saja, produk nantinya akan menjadi sasaran empuk bagi yang hendak berkunjung atau yang ingin bepergian keluar kota untuk berburu oleh – oleh. Sudah barang tentu mereka tidak akan membeli satu untuk keluarga saja kan ? Pastinya mereka akan membeli untuk saudaranya pula, tetangga, kenalan, atau mungkin rekan yang secara khusus minta titip beli. Pasti lebih dari satu dalam sekali beli.

Ditunjang lagi dengan mudahnya kaum Urban untuk membuka lapak bisnis sendiri. Menurut Paulina Habben, ketua community & communications Go—PopUp pada CNBC, saat ini para Millenial telah benar – benar telah menguasai berbagai industry baik sebagai pemiliki atau pembelinya.

Trend ini semakin memperjelas pola bisnis masyarakat urban. Berbisnis dengan pemasaran online adalah sesuatau yang paling mempuni. Seorang pengusaha sukses dulunya mungkin perlu untuk bekerja dengan broker, distributor, pengepakan dan grosir untuk bisa memasarkan produk di rak-rak toko yang strategis. Setelah produk berhasil dikembangkan, pengusaha harus memenuhi pelabelan halal atau BPOM dan patuh  terhadap peraturan tersebut selama bisnis mereka berjalan, menemukan fasilitas lokasi pengolahan yang cocok, menentukan harga dan mengembangkan materi promosi, sambil berhadapan dengan produk yang sudah habis masa kadaluarsanya.

Cukup rumit bukan ? Ah ga juga.

Buktinya saat ini banyak sekali entrepreneur dadakan yang tak memiliki latar belakang atau pengalaman bisnis sebelumnya namun mampu membuka lapak sendiri melalui akun sosmed yang mereka miliki. Berbisnis pun sudah bisa dimulai dengan modal 0 rupiah saja. Biasanya pedagang online ini bergerak dengan kosep reseller atau dropship dan pangsa pasar berupa teman – teman atau follower yang mereka miliki di akun. Peluangnya akan lebih bertambah apabila si teman mau membantu dengan sekedar klik like atau share. Makin bertambah teman, makin banyak pula pasarnya.

Social media marketing jelas – jelas merupakan metode bisnis yang paling mudah, efisien, dan pastinya murah. Karna hanya bermodalkan quota dan  ‘senam jari’ saja alias promote. Promosinya di social media biasanya berbentuk posting foto produk dengan visual semenarik mungkin, kemudian menjajakannya dari akun ke akun. Ada pula sistem Shout for Shout dimana produk kita bisa dipromosikan oleh akun lain yang memiliki jumlah pengikut yang lebih banyak. Atau sistem endorsement yang saat ini banyak dijadikan kerja sambilan oleh kebanyakan artis. See ? Betapa mudahnya melakukan perdagangan via social media. Kita tidak perlu sudah payah menggunakan cara konvensional dengan menyebarkan brosur, menempel leaflet, dan mempresentasikan berulang kali pada masing – masing orang yang bertanya.

Hal ini akan menjadi lebih mudah lagi 180 derajat andaikata kamu seorang public figure. Ada beberapa keuntungan jika penjual adalah seorang artis terkenal.

Yang pertama dalah Penggemar yang dalam hal ini dikategorikan sebagai follower. Fans adalah market yang bisa memberikan keuntungan dengan cepat. Apalagi ditunjang dengan adanya fiture tagar atau hashtag di setiap social media masa terkini. Kedua, artis – artis ini tentunya mempunyai kemudahan dalam mengendorse produk mereka sendiri dengan bantuan rekan sesama artisnya. Yang ketiga mungkin adalah modal. Orang – orang urban ini juga merupakan kumpulan manusia yang selalu tertarik dengan visual. Karna modal utama marketing online saat ini adalah ketajaman dan keindahan visual produknya.

Intinya memang terdapat kolerasi antara trend bisnis artis ini dengan selera kaum urban khususnya generasi millennium. Generasi milenium lebih spontan dan gemar berpetualang daripada generasi sebelumnya dalam hal ‘interaksi’ mereka terhadap makanan. Mereka rata – rata menikmati makan dengan orang lain (commensality-style dinning), daripada memasak di rumah atau makan di luar saat happy hour dengan teman-teman, dan dengan postingan mereka di social media yang menunjukkan seakan kurang nyaman jika hanya makan makan saja. Mereka menganggap makan adalah sebuah petualangan dan cenderung mencari sesuatu yang berbeda misalnya jenis masakan baru, rasa rasa yang baru, dan bentuk bentuk yang unik (dikutip dari MillenialMarketing.com)

Lalu apakah trend ini akan bisa berlangsung dalam jangka panjang ? Who knows 😉

Tapi setidaknya saya bisa memprediksi melalui hasil baca – baca saya dari beberapa sumber di internet. Pertama, tidak ada produk sukses yang berhasil dari penjualan yang serba instan. Ingat, hasil yang sempurna tidak pernah diperoleh dengan cara yang mudah tanpa aral dan rintangan. Ada banyak kisah pengusaha sukses yang jatuh bangun dalam merintis dan mempertahankan bisnisnya. Mereka perlu melalui beberapa tahap sebelum akhirnya produk mereka bisa diterima di pasaran. Contohnya saja kisah pasangan Pilar Guzman Zavala and Juan Zavala dengan produk mereka, Half Moon Empanadas mereka berbagi kisah ketika awal mula mereka membesarkan bisnis Empanada, makanan yang berasal dari Argentina . Kisahnya bisa dibaca lengkap disni.

Yang kedua. Kaum urban memang doyan mencoba hal – hal baru yang outstanding, namun mereka bukanlah kumpulan orang bodoh. Majalah Bon Appetit melaporkan dalam beberapa tahun terakhir, grafik sirkulasi para foodies menunjukkan bahwa millenial merasa penting untuk bertanggung jawab secara sosial. 70% dari milenial mengurangi membeli air kemasan, dan menggunakan tumbler sebagai gantinya, karena sadar dampak negatifnya terhadap lingkungan. Hal ini bisa disebabkan karena milenial dibesarkan pad saat sistem promosi kesehatan sudah semakin marak diunjukkan, mereka tidak segan untuk meminta pendapat rekan mengenai cara hidup yang baik. Generasi ini lebih suka pergi berbelanja dengan teman-teman daripada sendiri, dan mereka menggunakan aplikasi gadget untuk memindai barcode dan mengetahui lebih lanjut tentang produk sebelum menambahkannya ke keranjang belanja. Nancy Dalhberg juga menambahkan bawah kaum millenial juga  miliki minat yang tinggi terhadap local green food, terutama organic karna kesadaran akan manfaatnya bagi kesehatan dan efek jangka panjang terhadap tubuh. Jangan harap trend bisnis kuliner ‘khas’ ini akan lancar- lancar saja tanpa pertimbangan yang baik mengenai kandungan gizi dan nutrisinya. Lets say, penggemar gula dan snack berbahan pasta sintetis memang banyak, namun jumlah peminat greeny leafs juga tidak bisa dibilang sedikit.

Ketiga, banyaknya pesaing. Tidak ada yang tahu seberapa lama ke-khasan produk artis – artis ini mampu dipertahankan. Bukan tidak mungkin nantinya setiap daerah di Indonesia akan dijamah oleh para pengusaha kulinar khas – yang tidak khas – ini. Bla bla bla Cirebon… Blablabla Padang…Blablabla Palembang…Blablabla Madano dan lain sebagainya. Dan bisa jadi keterbatasan konsumen dalam memperoleh kuliner yang (katanya) khas ini mencetuskan ide bagi para pelaku bisnis pop up yang lebih kecil untuk menciptakan makanan serupa kuliner khas tersebut. Mengapa tidak ? toh bahannya hanya seputar soft cake, vla, topping, dan puff pastry saja.

Lalu tak lama resep – resep penganan khas tersebut nantinya sudah mampu dicipta oleh tangan tangan magic para ibu “kitchen-mania” yang memang hobi coba coba resep dan posting di beranda facebook mereka dengan judul “Lamington ala – ala… Strudel murah meriah ala Mama Santi… Makuta praktis ala Bunda Cinta dan lain sebagainya”

Yang Keempat. Artis atau public figure bukanlah pemilik panggung yang selamanya akan bertahta dalam kepopuleran. Akan tiba masanya ketika mereka harus turun panggung karna skenario yang mereka mainkan sudah habis. Akan tiba waktunya mereka menua dan tidak lagi sesuai dengan segmen intertain dan segera berganti dengan wajah – wajah baru yang dinilai lebih muda dan cocok. Jika selama ini bisnis mereka memiliki power sepenuhnya dari penggemar atau sorotan media, bisa dibayangkan ketika mencapai masa pensiun dari mana mereka memperoleh pasokan power tadi ? Kecuali jika mereka benar – benar serius dan mau memperbaiki kualitas produknya dari waktu ke waktu.

Jadi, mari kita liat saja seberapa kuat para artis ini menghadapi berbagai macam treat diatas.

IMG_0176

Image from kumpulanceritamenarik.net

Saran saya kepada para konsumen, bijaklah dalam membeli. Anda boleh membawakan makanan ‘oleh – oleh’ ini sebagai bentuk makanan khas sebagaimana visi dana misi si pengusaha. Namun janganlah lupa bahwa produk tersebut bukanlah makanan khas daerah kita yang sebenarnya. Makanan khas tetaplah makanan yang selalu kalian rindukan setiap hendak pergi jauh merantau. Makanan yang bisa mendorong kalian untuk rindu pulang ke kampung. Makanan yang dulu sering dihidangkan oleh nenek nenek kita. Makanan yang minim unsur kimia buatan. Makanan yang rasa lezatnya mengalir melalui resep yang diwariskan turun temurun, bukan contekan dari mesin pencari modern.

Dan alangkah baiknya jika para artis – artis mau membantu mengangkat kuliner traditional dengan kepopulerannya. Tidak hanya sebagai ladang bisnis saja. Pemerintah atau oknum daerah juga baiknya lebih memperhatikan hal ini dengan lebih banyak upaya menggalakkan promosi atau event – event yang bisa membantu melestarikan kuliner daerah. Atau dengan memberikan informasi dan edukasi lebih luas kepada masyarakat Indonesia mengenai kuliner Nusantara dan bagaimana menjaga kelestariaannya. Terutama kepada para ibu, karena merekalah influencer tebaik yang bisa memperkenalkan masakan dan kuliner khas daerah di mulai dari anggota keluarga.

 

 

Sumber baca :

Advertisements

One thought on “Urban Foodies Dan Trend Artis Berbisnis Kuliner Khas (Yang Tidak Khas)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s